Www.DannyPunyaCerita.blogspot.com

Selamat datang di blog saya!
Blog yang berisi tentang catatan catatan (yang mungkin nggak penting buat sebagian orang^^"), tentang mimpi, harapan, cita, cinta, dan semua yang mungkin dialami umat manusia, melalui kacamata seorang beruang yang bodoh ini..
Kritik yang membangun (dan masukan di rekening saya, jika memungkinkan), saya harapkan disini.
Jangan lupa leave comment, follow my blog atau bahkan promosiin blog saya! Hehehe! ^^v
Eniwei, makasiiih, buat kamu kamu, anda anda sekalian yang udah masuk dan baca baca blog nii,..
Tabee '... ^^v

Kamis, 06 Agustus 2009

"SAM SANG ABADI" chapter.02 "OGRE" Bag.01

Aku merasa mereka bukan ancaman bagiku, jadi aku membiarkan mereka mendekatiku.
Aku melihat ada empat buah sinar disana. Berarti kini ada empat orang yang mendekatiku.
“Hei, Kamu tidak apa apa?”
Salah seorang kini ada tepat disebelahku. Aku dapat melihat, ternyata mereka menyandang sebuah senjata panggul, dimana senter senter itu terpasang di ujungnya. Pakaian mereka yang tampak seperti seragam tentara, membaur dengan keadaan sekitar karena warnanya hitam. Nampak banyak tali dan tas berukuran kecil di beberapa bagian tubuh. Sementara, mereka mengenakan masker dan topi yang menutupi seluruh kepala mereka, sehingga wajah mereka tak terlihat sama sekali.
“Hei, kamu tidak apa apa?”
Orang yang ada di dekatku berhenti dan kembali bertanya, sembari terus mengarahkan senjatanya kepadaku. Aku mengangkat tanganku, menutupi sinar yang tepat menuju wajahku.
”Ya, aku tidak apa apa” aku menjawab keraguan mereka.
Setelah aku menjawab pertanyaan itu, mereka kembali menghampiriku. Tiga orang mendekati mayat monster yang tadi aku bunuh, sementara salah satunya menurunkan sinar senternya dari wajahku, dan berjongkok di dekatku.
“Wow, bung. Aku nggak bisa ngomong apa apa lagi, maksudku,..bagaimana…bagaimana kamu bisa membunuh ogre macam dia, padahal kamu nggak bawa senjata sama sekali..””
Ogre? Apa maksudnya? Orang itu mengeleng gelengkan kepalanya, seakan aku adalah orang istimewa yang baru saja ditemuinya.
“Salah. Ini bukan dibunuh,…lebih tepatnya, dibantai” timpal salah seorang dari mereka yang tengah memeriksa monster itu.
Aku menyamankan posisiku. “Aku hanya membela diri. Dia mengejarku saat aku melihatnya disini..Itu saja..” Orang di dekatku kembali menggeleng tak percaya. “Tapi tetap saja, bung. Kamu luar biasa. Pasti kamu ketakutan banget, yah..sewaktu berkelahi sama ogre ini..”
“ Ogre? Apa maksudmu? “ aku bertanya, terusik dengan sebutan ogre..
“Iya, ogre..monster bangsat pemakan manusia itu” Geram salah satu dari mereka. “Mereka mengambil wajah korbannya untuk menyamar. Mereka bisa kapanpun berganti wajah dan penampilan. Selain mengambil wajah korbannya, mereka juga memakan habis tubuhnya..Terkutuklah mereka ”
Orang di dekatku menepuk punggungku. “ Kamu mungkin masih bingung sama kejadian ini. Ayo, ikut kami ke atas.” Ia lalu berdiri. “Bawa ogre itu. Hati hati. Itu bahan penting..Terus,..bawa juga Reza ke atas…Kita makamkan dia dengan layak..”
Aku tidak tahu maksud dari perkataan mereka tentang bahan penting, namun aku tertarik dengan informasi mereka tentang mayat satunya..Teman mereka.
Reza…jadi itu nama teman mereka yang tewas oleh monster itu. Sementara mereka mengeluarkan kain putih untuk mengangkut monster itu dengan hati hati, orang yang sedari tadi berada di dekatku mengulurkan tangannya padaku, bermaksud membantuku untuk berdiri. Aku menerima uluran tangannya.

“OGREE !!!”
Mereka kemudian berteriak ribut. Mereka langsung meloncat ke belakang, mengarahkan senjatanya kembali kepadaku. Orang didekatku nampak kaget, dan sama sama melompat kebalakang utnuk kemudian mengacungkan senjatanya kepadaku.
Yang terjadi kemudian adalah suasana yang ribut. Mereka saling berteriak, bersiap untuk menembakku dan menyuruhku untuk menyerah. Aku bingung. Apa yang mereka takutkan dariku? Aku pun, tidak bermaksud untuk mencelakakan mereka.
“Ogree! Pantas saja kamu bisa membunuh monster ini dengan mudah!”
“Ogree !! Tiarap di lantai! Tiarap di lantai!!!”
“Jangan bergerak!! Aku tembak kamu!!!”
Mereka terus saja berteriak. Aku kemudian menoleh ke arah orang yang sedari tadi di depanku. Lalu aku menemukan alasan mengapa mereka bersikap seperti ini. Tanganku. Aku mengulurkan tangan besiku kepadanya tadi.
“Siapa kamu??!! Jawab!!!” Teriak orang didekatku itu. Aku sungguh ingin menjawab pertanyaan mereka, namun bagaimana caranya? Aku sendiri tidak tahu, siapa aku sebenarnya.
“..Mohon tenang dulu semuanya..” Aku berusaha membujuk mereka. Keempatnya lalu berkeliling, mengambil posisi yang tepat untuk menembakku.
“Aku juga tidak tahu siapa aku. Yang aku tahu, aku terbangun disini. Aku juga ingin tahu siapa aku, maka aku berjalan melewati lorong ini. Siapa tahu aku bisa menemukan jalan ke atas. Lalu, tiba tiba aku bertemu dengan..monster ini. Dia berusaha membunuhku,..,aku hanya membela diri.. ” “JANGAN BOHONG KAMU, MONSTER!” Potong salah satu dari mereka.
“Aku sama sekali tidak bohong!!” Aku membela diri.
“Terus, kenapa tanganmu itu bisa seperti itu!?? Cuma ogre yang bisa seperti itu!!”
Aku tidak bisa menjawab. Akupun tak tahu, kenapa tanganku bisa seperti ini.
“Cukup!” Ujar orang di dekatku tadi. “Aku juga tidak tahu siapa dia. Tapi, dia mungkin bukan ogre..Ogre tidak bisa berbicara selancar dia”..
Hah?
“Tapi..lengannya itu…apa itu??!! Cuma ogre yang bisa seperti itu” Timpal temannya yang lain.
“Aku juga belum tahu,..tapi akan kita cari tahu…Bung! Kamu ikut kami ke atas!!” Perintahnya dengan sikap yang tetap waspada, mengacungkan senjatanya kepadaku.
Aku juga ingin tahu siapa diriku. Maka, aku memutuskan untuk mengikuti perintah mereka.
“Baiklah. Aku ikut kalian ke atas”
Orang itu mengangguk. “Ris! Ikat tangan dan tutup matanya!” Perintahnya kepada temannya di belakangku.
Aku sempat melihat, orang yang dipanggil Ris itu ragu ragu untuk mendekatiku. Aku mengangguk, memberikan tanda bahwa ia bisa mengikat tanganku dan menutup mataku.. Ris nampak kembali ragu dengan sikapku, namun kemudian, ia maju dengan buru buru, dan langsung mengikat tangan dan kemudian menutup mataku. Aku diam. Namun, aku dapat merasakan ketakutannya di setiap ia mencoba mengikatku. Ya,. Sangat terasa. Bahkan, aku bisa mencium rasa takutnya, berbaur dengan setiap ia menarik dan mengeluarkan nafasnya. Tanpa sadar, aku tersenyum..
“Ayo!! “ Perintah orang itu.
Yang terjadi kemudian adalah kegelapan dengan suara suara arogan orang orang dibelakangku yang terus menerus menyuruh aku untuk terus berjalan. Sesekali, aku berjalan menanjak, mengikuti turunan curam dan menyusuri jalan yang sempit. Sampai kemudian setelah menaiki tangga, aku banyak berlari dengan sembunyi sembunyi. Mereka nampak berkoordinasi satu sama lain, untuk kemudian melanjutkan perjalanan.. Tidak jarang, mereka berbisik dalam menjelaskan situasi lingkungan..
Lama aku dalam kondisi seperti itu Dan setelah aku merasa kembali masuk dan menyusuri ruangan yang hampir sama dengan lorong sebelumnya, aku merasa memasuki sebuah ruangan. Aku dapat mendengar. Lamat lamat banyak orang berbisik bisik. “Duduk!” Tiba tiba aku didorong ke bawah untuk duduk. “Diam disini!”
Aku kemudian ditinggal cukup lama sampai tiba tiba aku medengar beberapa langkah kaki mendekatiku.
Lalu penutup mataku dibuka.
Aku kemudian melihat ke empat orang yang berseragam sama seperti yang ada di lorong sebelumnya ada disitu, tanpa penutup kepala tetap menyandang senjata mereka, bersiap bila aku melakukan hal –hal yang mungkin membahayakan mereka.. Selain mereka berempat, ada tiga orang lagi yang nampak elit dari penampilan mereka, walaupun dengan balutan pakaian yang sederhana. Ketiganya telah lanjut usia, namun begitu, aku dapat merasakan pancaran kharisma dari mereka bertiga.
“Buka bajumu, nak…” Ujar salah satu diantara orangtua itu.
Aku diam.
“BUKA !” Teriak salah seorang berseragam yang ada di belakangnya, sembari mengacungkan senjatanya padaku.
“Cukup!...” Orangtua tadi memberikan tanda agar ia menurunkan senjatanya. “Nak,..aku dengar , kau tidak tahu siapa dirimu sendiri. Bukan begitu?”
Aku merasakan ketenangan dari nada bicaranya.
“Ya” jawabku.
“Kalau begitu, bagaimana bila kau biarkan kami untuk mencoba membantumu. Karena itu, kami butuh kerjasamamu. Kau bersedia?”
Aku terdiam. Aku kemudian berfikir, aku dapat mempercayai mereka. Akupun ingin tahu siapa diriku, melebihi dari semua orang yang ada di ruangan itu.
“Baiklah” jawabku setuju.
Orangtua itu mengangguk. “Kalau begitu,…mulailah dengan membuka bajumu. Kami ingin tahu soal tangan kananmu itu”
Aku mengangguk. Lalu aku mulai membuka bajuku. Seluruhnya. Aku dapat melihat ekspresi ngeri, terkejut atau bahkan takjub saat aku membuka bajuku dari.mereka. Aku sendiri kemudian terkejut melihat badanku sendiri. Badan pucat pasi penuh dengan sayatan luka itu, tersebar tulisan tulisan dan simbol aneh yang tak kumengerti. Aku menoleh ke tanganku kananku. Tangan besiku kini dapat kulihat dengan lebih jelas. Berwarna merah darah dengan alur alur berwarna ungu dan biru tua, membentuk wujud urat manusia. Terukir simbol aneh pula disitu, menambah kesan mistis dan aku harus mengakuinya,…tangan itu membuatku merasakan sendiri perasaan ngeri yang tak dapat aku mengerti.
“Astaga…” aku melihat ketiga orangtua itu begitu serius mengamatiku, dan kemudian sesekali berdiskusi. Aku merasakan atmosfir yang aneh saat itu.
“Astaga..ini tidak mungkin nyata…tidak mungkin…” Mereka terus terus saja berkomentar yang tidak aku mengerti..
Kemudian, orangtua itupun kembali berkata padaku, “…Nak..sekarang, bisakah kau buka balutan di wajahmu itu?” Ia berusaha tersenyum padaku.
Aku mengangguk. Pelan pelan aku mulai membuka balutan di wajahku. Semua orang dapat kulihat dengan jelas, menahan nafas mereka. Mungkin mereka menunggu kejutan selain fakta tentang tubuh anehku ini.
Kain yang sudah kering,bercampur dengan noda darah yang telah kering pula, sesekali begitu perih dan sakit untuk berusaha aku buka. Kalau sudah begitu, aku berhenti sejenak, dan kemudian melanjutkannya. Sampai dibalutan terakhir, aku kini dapat melihat ekspresi mereka yang sebelumnya bercampur aduk itu, kini menjadi satu ekspresi jelas yang sebenarnya tidak aku harapkan.

Mereka ketakutan setengah mati.

“….Ya Tuhaaaaannn… !!!” Jerit mereka.

Ada apa?

Ada apa dengan wajahku?

Senin, 27 Juli 2009

"SAM SANG ABADI" CH.01 Dweller in the dark bg.03

Aku memutuskan untuk memasuki lorong tersebut.
Pelan pelan aku mulai membuka gerbang lorong itu. Ugh.Baru sebentar saja, bau yang amat menyengat menyerangku. Aku harus menghindar dan mengambil nafas sejenak, sebelum aku kembali melongok, mencoba meneliti lorong tersebut.

Gelap total

Aku mencoba lagi untuk membiasakan diri dengan kegelapan disitu. Terbersit perasaan untuk mengurungkan niat memasuki lorong itu, namun aku kemudian kembali mengurungkan niat tersebut. Aku merasa aku akan menemukan sesuatu, bila aku mencoba menyusuri lorong ini. Maka, aku kemudian mulai melangkahkan kakiku ke dalam.

Hanya bunyi kecipak air, serta suara angin yang menerpa pelan namun pasti ke tubuhku, yang dapat kudengar di dalam lorong. Sesekali, suara decit tikus, membahana di sekitarku, seakan2 mereka telah mengepungku dari segala arah. Aku cukup terbantu dengan beberapa sinar lemah yang menembus dari atas, yang membuaku semakin dapat melihat dengan jelas di dalam kegelapan. Terlalu jelas, malahan.
Namun, aku tidak memperdulikan hal tersebut.
Aku terus berjalan. Rasa pusingku di kepala, berangsur angsur mulai menghilang. Kurasa, aku mulai dapat berfikir dengan jernih..
Menyusuri lorong itu, serasa tak memiliki ujung. Seperti akan selamanya aku berada disini. Ditambah lagi, suasana yang sunyi dan senyap, mau tak mau membuat aku merinding juga. Namun aku tahu, aku tak bisa berhenti. maka aku terus saja berjalan.
Suasana sepi dan senyap itu, tiba2 terpecahkan dengan suara yang lamat lamat kudengar. Aku berhenti, dan mencoba mendengar lebih jelas lagi..

Cap cap..

Belum,..belum jelas apa yang kudengar. .Aku lalu melangkah lagi, untuk mencoba mendengar lebih jelas..

Cap cap...

Hm?...aku belum yakin apa yang kudengar..

Cap..cap..

Apakah itu,...suara...

Cap cap...cap..cap..

..Ada yang sedang makan?....

Cap..cap...

Aku semakin mendekati asal suara tersebut. Dari kejauhan, sedikit demi sedikit aku dapat meilhat bayangan putih, terdiam dan sedikit bergerak, mengikuti irama suara "cap..cap" tersebut.
Aku semakin dekat dengannya. Setelah kira2 100 meter dari tempatnya berdiri, aku tetap tidak bisa memastikan, apa yang ada di depanku ini.Dia nampaknya mengenakan jubah putih yang nampak sangat kotor, terkena air dan lumpur di sekitarnya. Namun hal itu rupanya bukan hal yang paling menakutkan bagiku.
Saat aku lihat lebih jelas, rupanya bukan hanya noda kotor maupun lumpur yang ada disitu. Sekonyong2 tiba tiba merembeslah darah segar dari situ sewaktu ia membalikkan badannya. Nafasku tercekat saat aku melihat sesosok mayat yang sudah hancur ada dibawahnya, dan nampak wajah pemangsanya sedang menggigit sepotong lengan yang sudah koyak.
Darah menetes deras dari potongan lengan tersebut, sedangkan dari rasa keterkejutanku, aku bisa melihat matanya menyala penuh kebencian, menyeruak dari rambutnya yang kusut masai.
Aku terkesiap. Secara reflek, aku mundur beberapa langkah kebelakang. Menyadari kenyataan bahwa ada sesuatu yang sedang menyantap mayat manusia di depanku membuatku tiba2 mual dan miris..
Aku semakin beringsut kebelakang saat pelan2 dia mulai maju menghampiri. Lama2, terdengar suara desisan dari mulutnya yang masih sibuk mengunyah lengan tersebut. Darah segar semakin menetes dari mulutnya yang mulai menggumam tak jelas, dan tiba2..PLUK! Ia menjatuhkan lengan tersebut dan berhenti menghampiriku.. Aku terdiam pula di tempat, saat suasana tiba2 menjadi hening..Kami berdua terdiam cukup lama, walau sejujurnya aku tak lagi memikirkan tentang seberapa lama kami berdua kini saling memandang..Aku tetap dapat merasakan kebencian menyorot tajam ke arahku, dan dugaanku benar adanya.
Tiba2 dia menjerit! Ya Tuhan,...suara jeritan itu lebih tepat bila kusebut dengan lengkingan. Amat menyakitkan siapapun yang mendengarkannya. Aku menutup kedua tanganku, sedangka mataku terus melihat ke arahnya. Kini, aku dapat dengan jelas melihat wajahnya.
Wajah perempuan putih pucat pasi itu melengking, memamerkan taring2 tajam mengerikan yang berbalur dengan merah darah, terbuka tak wajar dengan bentuk lonjong rahang yang lebih lebar dari rahang manusia biasa. Matanya yang besar, berwarna hitam kelam, seakan merupakan sebuah lubang tanpa ujung disana, membelalak, menatapku hebat.
Aku terkesima, tak dapat bergerak. Tubuhku seakan dipaku ke dasar tanah, sementara keringat dapat kurasakan mengguyur hebat di antara tubuhku yang bergetar ketakutan.
Aku semakin terkejut saat aku dapat melihat seseuatu keluar dari punggungnya.. Sesuatu itu adalah tangannya! Enam tangan yang hitam panjang itu menyeruak keluar dengan lendir2 menjijikkan yang menyertainya. Tangan2 itu seakan menari2 saat pelan2 mereka mulai menghujamkan jari2 yang panjang, dan setajam pedang itu ke dalam langit2 lorong, dan mengangkat tubuh tuannya beberapa senti dari permukaan tanah. Aku tetap tak dapat bergerak melihat apa yang ada di depanku ini.
Makhluk itu pelan namun pasti mengambil sikap untuk menyerangku. YA,..MENYERANGKU! Itu dapat kulihat dari seringai mengerikan yang tampak dari wajah pucat pasi itu. Dan tiba2 ia mulai bergerak!
Bak laba2 ia maju dengan menggunakan ke enam tangan di punggungnya utnuk menghampiriku dengan kecepatan yang luar biasa. Dengan jeritan yang mengerikan, Ia juga mengibaskan kedua tangannya di depan, berusaha untuk meraihku. Aku seketika menjatuhkan diriku ke belakang, tepat saat aku merasakan kibasan tangannya yang setajam pisau itu, tepat melewati wajahku.
Aku lalu bangkit, dan melihat ke belakang. Nampak makhluk itu berhenti, dan menoleh ke belakang. Ia terkesan amat kesal karena ia gagal menyerangku barusan. Ia lalu cepat berbalik, dan kembali melengking. Aku tak mau berdiam lama. Aku langsung melompat, dan berlari secepat yang aku bisa. Aku tak tahu apakah aku cukup cepat untuk bisa melarikan diri dari makhluk ini. Yang aku tahu, aku dapat mendengar suara hujaman kaki2nya di tembok lorong, dan jeritannya yang mengerikan itu, berada semakin dekat denganku. Lalu tiba, aku terjerembab jatuh. Rupanya, ia berhasil menangkapku. Aku langsung memutar badanku, sehingga aku kini berhadapan langsung dengannya.
Makhluk itu kemudian menghujamkan keempat tangannya ke tubuh sampingku..JRREEB!! Aaaggh!! Sakit sekali! Rasanya seperti mau mati, saat kurasakan jari2 panjang itu masuk menghujam, menembus mengulik2 daging di tubuhku.. Tidak berhenti sampai situ, wajahnya mendekat kearahku, membuka rahangnya lebar. Aku langsung menghentikannya. Aku memegang kuat rahang atas dan bawah, agar makhluk itu kesulitan membenamkan taring2 baunya ke kepalaku. .
Bertahan dalam kondisi itu sangat melelahkan. Makhluk itu sangat kuat, dan terus terang saja, aku berfikir untuk mulai menyerah, Menyerah, dan membiarkan gigi2nya yang kotor itu mengunyahku pelan2...Namun tiba2 dengan berfikir seperti itu, membuatku marah. Aku tak bisa menerima kenyataan itu..Aku tidak mau kalah dari makhluk ini!
Maka, dengan satu teriakan, sekaan mendapatkan tenaga entah darimana, aku mendorong balik makhluk itu. Berhasil. Aku langsung menduduki makhluk tersebut. Makhluk itu terus meronta2. Namun, aku tidak peduli. Aku terus menekan. Kami saling berteriak satu sama lain. Aku kemudian sadar bahwa aku kini dalam kondisi, dimana salah satu dari kami selamat dari situasi ini, dan lainnya mati..
Aku ingin makhluk ini mati...
Aneh. Aku merasakan kegairahan yang memuncak saat aku berusaha merobek rahang makhluk ini..Ugh..seharusnya dapat kurekam kembali sensasi saat makhluk tersebut menjerit kesakitan, saat aku membuka rahangnya, merobeknya hingga kedua ujungnya saling rata dengan tanah dibawahnya. Kemudian, aku mulai menggenggam tangan2 disamping tubuhku, dan mencabutnya. Kemudian, dengan satu teriakan panjang, aku mencengkramnya, melumatnya sampai tak berbentuk lagi. Ditengah mulutnya yang kini hancur, aku dapat mendengar ia kembali menjerit kesakitan...Aku menyukainya..
Sisanya, aku meraih kedua tangan di depan tubuhnya, dan kemudian mematahkannya dengan mudah. Setelah menarik putus tangan itu, aku menggunakannya untuk memukuli makhluk tersebut berulang kali dengan sekuat tenagaku. Entah sudah berapa lama aku melakukannya, hingga kulihat makhluk itu sekarat. Aku tidak puas. Tiba2 aku teringat tangan besiku. Aku kemudian mencekik makhluk itu, membawanya ke atas. Lalu dengan satu teriakan penuh kepuasan, aku menghantamkan tanganku tersebut keras2 hingga menembus tubuhnya. Darah segar segera berhamburan, melejit ke segala arah...Aku membiarkan semuanya, tubuh makhluk itu menggantung di tanganku diam tak bergerak, untuk merasakan sensasinya..aku tersenyum puas...
Namun tak lama, aku segera mengenyahkan tubuh itu..Aku terduduk. Tubuhku terasa sakit, terutama oleh luka2 disamping tubuhku ini. Aku bernafas, tanpa ingin melihat keadaan makhluk di depanku ini..Saat itulah tiba2 ku rasakan kehadiran makhluk lain dibelakangku.
Aku menoleh..
Aku melihat banyak sinar senter bersliweran disana..Lalu tiba2 aku mendengar seseorang berkata, "Hei...kamu tidak apa2? Wow,..kamu luar biasa tadi! Ah,..kau terluka? Mari, sini kami bantu!"
Aku dapat melihat seseorang dari mereka mengulurkan tangannya ke arahku.
Aku tak dapat melihat dengan jelas siapa mereka. Aku sudah terlalu capai ..nafasku memburu saat mereka semakin mendekatiku...

Selasa, 21 Juli 2009

"SAM SANG ABADI" Ch.01 Dweller in the dark bg.02

Aku memutuskan untuk berjalan ke arah cermin.

Terseok seok aku mencoba berjalan di tengah kegelapan. Beberapa kali, aku tersandung benda benda di tengah jalanku, karena selain pandanganku tak bisa begitu menangkap apa yang ada di depanku, selain itu kepalaku masih saja terasa seperti berputar putar tak karuan sedari tadi. Untunglah,. Sedikit cahaya di sana sini yang berasal dari berbagai sudut ruang, cukup membantuku agar aku tidak terlalu banyak tersandung dan terjatuh..
Aku terus berjalan, tak memperdulikan begitu banyaknya bunyi logam yang berdentangan sedari tadi. Aku ingin mengetahui segalanya tentang diriku. Dengan susah payah, akhirnya aku berhasil mencapai cermin…
Dan aku terkejut setengah mati,..
Yang kemudian tampak di cermin itu adalah gumpalan lusuh kain berwarna coklat yang pada awalnya kukira sesosok hantu sedang terbang melintas saat aku berdiri di depan cermin tersebut. Setelah sedikit “terkaget2”, aku mencoba sedikit menertawai diriku tadi..
Sedikit menarik nafas, aku mencoba melihat diriku lebih baik lagi. Pecahan dan retakan di cermin tersebut memang parah, namun lebih dari cukup untuk bisa melihat pantulan diriku seluruhnya. Oke, aku mulai lagi,..
Rupanya, aku memakai coat panjang lusuh berwarna coklat muda. Coat berkerah lebar hingga dada ini terkesan sangat kuno, namun entah bagaimana aku bisa merasa sangat nyaman memakainya. Aku maju selangkah lagi, karena aku tak dapat melihat wajahku disebabkan kurangnya cahaya. Dan kemudian aku melompat;-lebih tepatnya, terjerembab, kebelakang karena terkejut! Balutan perban yang carut marut, mengelilingi kapalaku, sehingga sebagian wajahku tertutup. Sama dengan coat lusuh yang kukenakan, perban itupun nampak seperti dari masa yang sudah lama sekali, bahkan aku dapat melihat beberapa bagian dari perban tersebut, membekas noda darah yang sudah mengering. Ya Tuhan,..aku mencoba kembali mendekat ke arah cermin. Setelah cukup terkumpul keberanian, aku mulai mengamati wajahku.
Wajah berbalut perban yang tidak rapi, sehingga rambutku yang nampaknya cukup panjang itu melintang, menembus perban disana sini, membuat aku terpengarah. Tuhan, apa yang terjadi pada diriku sebenarnya?. Namun satu hal yang cukup membuat ku merasa lebih tidak nyaman lagi adalah, aku masih dapat melihat bola mataku yang bening diantara carut marut perban kotor itu seakan menyala, meskipun kurangnya cahaya disitu. Seakan2, keduanya terbuat dari kaca yang bening dan tajam..

Kemudian, aku mencoba untuk mengamati ke bawah..Aku memakai kemeja putih yang tak kalah lusuhnya. Nampak di beberapa bagian telah robek atau tercacah. Hei. Bahkan ada juga noda darah yang mengering disitu.. Aku mencoba melihat lagi kebawah. Ah, aku rupanya memakai celana dari kain berwarna sama dengan coat yang kupakai. Sama sama lusuh. Dengan sepatu ringan yang kugunakan juga, aku bertanya tanya, sebenarnya jenis pakaian apa yang sedang kugunakan saat ini..Aku kembali mengamati wajahku saat aku merasa aneh dengan tangan kananku. Ada yang janggal. Bila aku sadari lebih lanjut, ternyata ada satu hal yang luput sedari tadi..

Aku tak dapat merasakan tangan kananku sebagimana aku merasakan tangan kiriku.

Padahal, sedari tadi aku menggunakannya. Maka aku menyingkap lengan kanan coatku dan kembali aku dikejutkan fakta lain tentang tubuhku.
Aku melihat sebuah lengan besi disana!!!

Lengan besi merah yang mengkilat kilat, meskipun kurangnya cahaya disitu. Aku terduduk tak percaya.. jantungku berdebar keras hingga aku sendiri dapat mendengar irama setiap detakannya. Wajah yang diperban, baju penuh noda darah,..tangan besi merah yang melekat di lenganku,..terlalu banyak hal yang bisa aku terima saat ini juga. Terlalu banyak pertanyaan butuh untuk dijawab, sementara aku masih belum bisa berdiri tegak di kakiku.

Aku masih terduduk. Nafasku memburu. Aku berfikir. Dalam hati, aku terus menyuruh diriku sendiri untuk berfikir. Otakku bergerak hebat, sementara aku bisa merasakan keringatku deras menetes, merambat diantara perban2 di wajahku..Sementara itu, di depanku terlihat bayangan seorang pria yang nampak ketakutan, meringkuk seperti hantu..Aku tak mempercayainya..,aku tak mempercayainya kalau pria itu adalah aku, sampai aku melihat matanya yang walaupun terkesan takut, namun tetap berkilat-klilat menakutkan..

Ya Tuhan,..ya Tuhan,..apa yang terjadi? Dimana aku? Apa yang terjadi pada diriku? Seiring aku mencoba berfuikir dan mengingat2 sesuatu yang mungkin bisa membantuku menerangkan apa yang sedang terjadi, seiring itu pula kepalaku makin berdenyut hebat.. Berdenyut, menghantam2 kepala dan kemudian turun ke seluruh sel sel tubuhku. Aku tiba tiba mual, kemudian aku muntah. Rupanya, itu cukup membantu, karena setelah itu, aku merasa bisa berfikir sedikit lebih tenang. Aku tidak bisa lama lama berdiam disini.

Aku kemudian melihat ke atas. Nampak sebuah pintu tidur di atas sana. Pintu tersebut nampak rapuh. Mungkin dengan sedikit tenaga untuk mendorong, pintu itu akan terbuka. Nampak beberapa cahaya masuk menembus pintu tersebut.

Aku kembali mencoba mengatur nafas. Aku kemudian merasa, aku dapat menemukan sesuatu di bawah sini, maka, aku mencoba mencari2 sesuatu. Apa saja. Aku mulai meraba2 kotak, meja, atau apa saja. Potongan manekin2 beterbangan kesana kemari. Ternyata, pencarianku tidak sia2. Diantara tumpukan kotak2 tersebut, aku menemukan sebuah pintu. Aku mencoba melongok ke dalamnya,. Gelap total. Namun dari hembusan angin yang masuk, aku dapat mengira2 bahwa pintu itu adalah sebuah lorong. Tampak dari angin kering yang menghantam mukaku saat aku mencoba melihat ke dalam..lorong itu tidak pendek..

Aku memutuskan beristirahat sejenak..Saat duduk, antara ingin dan tak ingin, aku melihat tangan kananku.

Ya Tuhan..

Aku kemudian kembali melihat sepotong tangan berwarna merah solid dengan ukiran urat manusia, berbentuk tangan manusia lengkap dengan sempurna..
Siapa yang telah melakukannya padaku?
Benda apa ini yang kini jadi tangan kananku?
Mengapa aku memakai perban di wajahku? Sakitkah aku?
Dimanakah aku?
…………………….
Sial,…….dari semua pertanyaan, terbit satu pertanyaan yang seharusnya terjawab terlebih dahulu,..

Siapa aku sebenarnya ?

"SAM SANG ABADI" Ch.01 Dweller in the dark bg.02

Aku memutuskan untuk berjalan ke arah cermin.

Terseok seok aku mencoba berjalan di tengah kegelapan. Beberapa kali, aku tersandung benda benda di tengah jalanku, karena selain pandanganku tak bisa begitu menangkap apa yang ada di depanku, selain itu kepalaku masih saja terasa seperti berputar putar tak karuan sedari tadi. Untunglah,. Sedikit cahaya di sana sini yang berasal dari berbagai sudut ruang, cukup membantuku agar aku tidak terlalu banyak tersandung dan terjatuh..

Aku terus berjalan, tak memperdulikan begitu banyaknya bunyi logam yang berdentangan sedari tadi. Aku ingin mengetahui segalanya tentang diriku. Dengan susah payah, akhirnya aku berhasil mencapai cermin…

Dan aku terkejut setengah mati,..

Yang kemudian tampak di cermin itu adalah gumpalan lusuh kain berwarna coklat yang pada awalnya kukira sesosok hantu sedang terbang melintas saat aku berdiri di depan cermin tersebut. Setelah sedikit “terkaget2”, aku mencoba sedikit menertawai diriku tadi..

Sedikit menarik nafas, aku mencoba melihat diriku lebih baik lagi. Pecahan dan retakan di cermin tersebut memang parah, namun lebih dari cukup untuk bisa melihat pantulan diriku seluruhnya. Oke, aku mulai lagi,..

Rupanya, aku memakai coat panjang lusuh berwarna coklat muda. Coat berkerah lebar hingga dada ini terkesan sangat kuno, namun entah bagaimana aku bisa merasa sangat nyaman memakainya. Aku maju selangkah lagi, karena aku tak dapat melihat wajahku disebabkan kurangnya cahaya. Dan kemudian aku melompat;-lebih tepatnya, terjerembab, kebelakang karena terkejut! Balutan perban yang carut marut, mengelilingi kapalaku, sehingga sebagian wajahku tertutup. Sama dengan coat lusuh yang kukenakan, perban itupun nampak seperti dari masa yang sudah lama sekali, bahkan aku dapat melihat beberapa bagian dari perban tersebut, membekas noda darah yang sudah mengering. Ya Tuhan,..aku mencoba kembali mendekat ke arah cermin. Setelah cukup terkumpul keberanian, aku mulai mengamati wajahku.

Wajah berbalut perban yang tidak rapi, sehingga rambutku yang nampaknya cukup panjang itu melintang, menembus perban disana sini, membuat aku terpengarah. Tuhan, apa yang terjadi pada diriku sebenarnya?. Namun satu hal yang cukup membuat ku merasa lebih tidak nyaman lagi adalah, aku masih dapat melihat bola mataku yang bening diantara carut marut perban kotor itu seakan menyala, meskipun kurangnya cahaya disitu. Seakan2, keduanya terbuat dari kaca yang bening dan tajam..

Kemudian, aku mencoba untuk mengamati ke bawah..Aku memakai kemeja putih yang tak kalah lusuhnya. Nampak di beberapa bagian telah robek atau tercacah. Hei. Bahkan ada juga noda darah yang mengering disitu.. Aku mencoba melihat lagi kebawah. Ah, aku rupanya memakai celana dari kain berwarna sama dengan coat yang kupakai. Sama sama lusuh. Dengan sepatu ringan yang kugunakan juga, aku bertanya tanya, sebenarnya jenis pakaian apa yang sedang kugunakan saat ini..Aku kembali mengamati wajahku saat aku merasa aneh dengan tangan kananku. Ada yang janggal. Bila aku sadari lebih lanjut, ternyata ada satu hal yang luput sedari tadi..

Aku tak dapat merasakan tangan kananku sebagimana aku merasakan tangan kiriku.

Padahal, sedari tadi aku menggunakannya. Maka aku menyingkap lengan kanan coatku dan kembali aku dikejutkan fakta lain tentang tubuhku.

Aku melihat sebuah lengan besi disana!!!

Lengan besi merah yang mengkilat kilat, meskipun kurangnya cahaya disitu. Aku terduduk tak percaya.. jantungku berdebar keras hingga aku sendiri dapat mendengar irama setiap detakannya. Wajah yang diperban, baju penuh noda darah,..tangan besi merah yang melekat di lenganku,..terlalu banyak hal yang bisa aku terima saat ini juga. Terlalu banyak pertanyaan butuh untuk dijawab, sementara aku masih belum bisa berdiri tegak di kakiku.

Aku masih terduduk. Nafasku memburu. Aku berfikir. Dalam hati, aku terus menyuruh diriku sendiri untuk berfikir. Otakku bergerak hebat, sementara aku bisa merasakan keringatku deras menetes, merambat diantara perban2 di wajahku..Sementara itu, di depanku terlihat bayangan seorang pria yang nampak ketakutan, meringkuk seperti hantu..Aku tak mempercayainya..,aku tak mempercayainya kalau pria itu adalah aku, sampai aku melihat matanya yang walaupun terkesan takut, namun tetap berkilat-klilat menakutkan..

Ya Tuhan,..ya tuhan,..apa yang terjadi? Dimana aku? Apa yang terjadi pada diriku? Seiring aku mencoba berfuikir dan mengingat2 sesuatu yang mungkin bisa membantuku menerangkan apa yang sedang terjadi, seiring itu pula kepalaku makin berdenyut hebat.. Berdenyut, menghantam2 kepala dan kemudian turun ke seluruh sel sel tubuhku. Aku tiba tiba mual, kemudian aku muntah. Rupanya, itu cukup membantu, karena setelah itu, aku merasa bisa berfikir sedikit lebih tenang. Aku tidak bisa lama lama disini.

Aku kemudian melihat ke atas. Nampak sebuah pintu tidur di atas sana. Pintu tersebut nampak rapuh. Mungkin dengan sedikit tenaga untuk mendorong, pintu itu akan terbuka. Nampak beberapa cahaya masuk menembus pintu tersebut.

Aku kembali mencoba mengatur nafas. Aku kemudian merasa, aku dapat menemukan sesuatu di bawah sini, maka, aku mencoba mencari2 sesuatu. Apa saja. Aku mulai meraba2 kotak, meja, atau apa saja. Potongan manekin2 beterbangan kesana kemari. Ternyata, pencarianku tidak sia2. Diantara tumpukan kotak2 tersebut, aku menemukan sebuah pintu. Aku mencoba melongok ke dalamnya,. Gelap total. Namun dari hembusan angin yang masuk, aku dapat mengira2 bahwa pintu itu adalah sebuah lorong. Tampak dari angin kering yang menghantam mukaku saat aku mencoba melihat ke dalam..lorong itu tidak pendek..

Aku memutuskan beristirahat sejenak..Saat duduk, antara ingin dan tak ingin, aku melihat tangan kananku.

Ya Tuhan..

Aku kemudian kembali melihat sepotong tangan berwarna merah solid dengan ukiran urat manusia, berbentuk tangan manusia lengkap dengan sempurna..

Siapa yang telah melakukannya padaku?

Benda apa ini yang kini jadi tangan kananku?

Mengapa aku memakai perban di wajahku? Sakitkah aku?

Dimanakah aku?

…………………….

Sial,…….dari semua pertanyaan, terbit satu pertanyaan yang seharusnya terjawab terlebih dahulu,..


Siapa aku sebenarnya ?


Minggu, 19 Juli 2009

"SAM SANG ABADI"

"SAM SANG ABADI " Chapter 01; A Dweller in the dark Bag 01


Sunyi,...
Senyap,...
Lalu tiba2 semua jadi berubah...
Perlahan,aku mulai mendengar suara suara senyap, namun sangat mengganggu karena berulang-ulang. Suara tetesan air yang suara tiap tetesannya serasa bom atom yang jatuh menghantam bumi, dan mengakibatkan suara dan kehancuran yang besar. Dan semakin aku mencoba mendengarkan suara suara lainnya di sekitarnya, semakin aku merasakan sakit di kepalaku..UUhh,...serasa baru saja di hantam palu godam tepat di atas ubun ubun...
Pelan pelan, aku mulai mencoba untuk berdiri,..bangkit,..atau apalah...Aku mulai mencoba merasakan tubuhku..dan ternyata keadaannya tidak lebih parah dari sakit kepalaku tadi..
Uuuhh...
Namun aku memaksakan diri. Kucoba mengangkat tubuhku dengan kedua tanganku. Terdengar bunyi logam keras berdentang, dan tubuhku kembali terjatuh. Aku berteriak kesakitan..Diantara sakit kepalaku dan remuk rasanya tubuhku, aku mencoba berfikir apa yang sedang terjadi..namun semakin lama aku melakukannya, keadaanku tidak lagi membaik, jadi aku coba lagi untuk berdiri..
Pelan2, bertumpu pada lututku, aku mencoba bertumpu. Dengan satu tarikan nafas panjang, akhrinya aku berhasil berditi. Namun, rupanya tubuhku belum kuat, maka ketika tubuhku limbung, cepat2 aku bersandar pada tembok disebelahku..
Nafasku menderu deru. Sumpah..aku merasa sedang memanggul sebuah gunung di atas tubuhku, sekarang. Sangat berat..
Saat aku mengatur nafasku, aku mencoba untuk lebih rinci lagi melihat keadaan di sekelilingku.. lamat lamat, dari kegelapan yang mulai aku akrabi, aku mulai menemukan diriku yang sedang berada di sebuah ruangan kecil, amat gelap, nampak banyak barang barang seperti peti peti besar, tergeletak tak beraturan. Suara air yang kudengar tadi, ternyata berasal dari pipa air yang bocor. Pipa itu melintang seperti tak beraturan, bersliweran di atas kepalaku. Aku juga melihat beberapa potong manekin yang nampak sudah rusak, bererakan disana sini. Ada yang tanpa tangan, kepala, kaki, atau hanya berupa potongan2 tubuh manekin yang berserakan. Nampak juga sebuah kaca besar yang telah pecah di beberapa bagian. Sebuah tangga kecil, melintang menuju keatas, tak jauh dari tempatku sekarang.Aku kemudian menyadari, nampaknya aku sedang berada di sebuah gudang saat ini.
mencoba menyadari tempat sekelilingku, aku kemudian mencoba menganalisa diriku sendiri...Aku kemudian berfikir untuk mencoba berjalan ke arah cermin besar pecah tadi, atau tetap berdiri disini kemudian pelan2 menganalisa diriku sendiri,...

Apa yang sebaiknya aku lakukan?